Seluk-Beluk Bimbingan Dan Konseling

, , No Comments
Konselor sedang menangani masalah (kanan). (sumber :google.com)
BIMBINGAN DAN KONSELING

KONSEP DASAR LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Salah satu tugas utama dan tugas pokok Guru sebagai pendidik profesional adalah mengajar, mendidik dan membimbing bagi peserta didik.
Oleh karena itu, agar seorang guru dapat  melaksanakan tugas membimbing dengan benar perlu menguasai dasar ilmu bimbingan, memiliki sikap sebagai seorang “pembimbing” dan memiliki keterampilan melaksanakan bimbingan belajar bagi peserta didiknya.

LATAR BELAKANG PERLUNYA LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Keberadaan manusia di masyarakat memperlihatkan adanya gejala yang mendasar (dimensi kemanusiaan) yang mencakup:
  1. dimensi keindividualan (individualitas)
  2. dimensi kesosialan (sosialitas)
  3. dimensi kesusilaan (moralitas)
  4. dimensi keberagamaan (religiusitas)
(Prayitno, 2008).

PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar ia dapat mandiri, dengan menggunakan bahan berupa interaksi, saran, gagasan, dan asuhan, yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku.
Konseling (konseling individual) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien), yang bermuara pada teratasi masalah yang sedang dihadapi klien
Konseling kelompok adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor kepada beberapa klien (individu-individu klien dalam kelompok) melalui teknik-teknik yang sesuai, yang bermuara pada teratasi masalah yang sedang dihadapi oleh klien-klien tsb.

TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Tujuan umum : agar peserta didik atau konseli dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan bakat, kemampuan, dan nilai-nilai yang dimiliki.
Tujuan khusus : agar peserta didik atau konseli mampu
  1. Memahami dirinya  dengan  baik
  2. Memahami lingkungannya dengan baik
  3. Membuat  pilihan  dan  keputusan  yang  bijaksana
  4. Mengatasi masalah-masalah  yang  dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di  luar sekolah.

FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING

  1. pemahaman tentang diri klien , permasalahannya dan lingkungan klien.
  2. menghindari timbulnya atau meningkatnya kondisi bermasalah pada diri konseli atau klien. 
  3. mengurangi  dan   menurunkan  faktor organik dan stress.
  4. meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, penilaian  positif terhadap diri sendiri, dan dukungan kelompok.
  5. Mengentaskan masalah yang dialami seseorang.
  6. Memelihara segala sesuatu yang baik yang ada pada diri individu.
  7. Mengusahakan agar hal-hal yang sudah baik bertambah baik, kalau dapat lebih indah, lebih menyenangkan, memiliki nilai-nilai tambah daripada sebelumnya.

AZAS DI BIMBINGAN DAN KONSELING

azas kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain, atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui orang lain. Dengan kata lain, kerahasiaan masalah klien harus dijaga. 
azas kesukarelaan
Klien diharapkan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa, menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan segenap fakta, data, dan seluk beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor; dan konselor juga hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa, atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas.
azas keterbukaan
Keterbukaan ini    bukan  hanya   sekedar   bersedia menerima saran-saran dari luar, malahan lebih dari itu, diharapkan masing-masing  pihak  yang  bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Individu yang membutuhkan bimbingan diharapkan dapat berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri .
azas kekinian
Masalah individu yang ditangani ialah masalah-masalah yang sedang dirasakan, bukan masalah yang sudah lampau, dan juga bukan masalah yang mungkin akan dialami di masa yang akan datang. Konselor juga tidak boleh menunda-nunda dalam memberikan bantuannya kepada klien, termasuk bila jelas-jelas nampak adanya individu siswa yang bermasalah , konselor harus segera memberikan bantuan meskipun tidak diminta.
azas kemandirian
Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing dapat mandiri, tidak tergantung   pada   orang   lain   atau  tergantung pada konselor. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri, dengan ciri-ciri: (1) mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya, (2) menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (3) mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri, (4) mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang dibuatnya, (5) mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.
azas kedinamisan
Azas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi ciri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya. Dalam hal ini upaya pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik.
azas kegiatan
Usaha bimbingan dan konseling harus diikuti dengan kegiatan nyata klien untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Dalam hubungan ini, konselor harus membangkitkan semangat klien sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalahnya, baik dalam konseling yang berdimensi verbal maupun pada pola konseling ”multi dimensional” (yang mengandalkan transaksi verbal maupun mengandalkan penerapan  di luar sesi konseling).
azas keterpaduan
Untuk terselenggaranya azas keterpaduan, konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan  klien  dan   aspek-aspek    lingkungan klien, serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.
azas kenormatifan
Usaha BK tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, baik norma agama, norma adat, norma   hukum/negara, norma ilmu, maupun kebiasaan sehari-hari. Demikian pula prosedur, teknik, dan peralatan yang dipakai tidak boleh menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan.
azas keahlian
Usaha BK perlu dilakukan secara profesional, teratur dan sistematik, dengan menggunakan prosedur, teknik, dan instrumen yang memadai; oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk pekerjaan itu.  Azas keahlian juga mengacu kepada kualifikasi konselor,  misalnya  berpendidikan sarjana bidang bimbingan dan konseling serta pengalaman, artinya seorang konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseling secara baik.
azas alih tangan (referral)
Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, jika konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu individu, namun individu yang bersangkutan belum dapat terbantu sebagaimana diharapkan, maka konselor dapat mengirim individu tersebut kepada lembaga atau orang yang lebih ahli.
azas tut wuri handayani
Konselor mengikuti saja apa yang menjadi jalan pikiran individu klien tersebut. Jadi, secara lebih lengkap peranan konselor adalah ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso,tutwuri handayani.

PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan bimbingan dan konseling:
  1. BK melayani semua  individu.
  2. Pelayanan BK perlu  menjangkau  keunikan  dan  kekompleksan pribadi individu.
  3. Pelayanan BK perlu mengenali dan memahami keunikan setiap individu dengan berbagai  kekuatan, kelemahan, dan permasalahannya.
  4. Pelayanan  BK harus mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan individu.
  5. Pelayanan BK perlu memahami perbedaan individu

Prinsip-prinsip berkenaan dengan masalah individu:
  1. bidang bimbingan dibatasi  hanya pada hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaian dirinya  di  rumah,   di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan
  2. Keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang kurang menguntungkan, dapat mengakibatkan salah-suai pada diri individu dan hal itu semua menuntut perhatian seksama dari para konselor dalam mengentaskan masalah klien.

Prinsip-prinsip  berkenaan  dengan program pelayanan bimbingan dan konseling:
  1. Program BK harus disusun dan dipadukan sejalan dengan program pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh.
  2. Program BK harus fleksibel disesuaikan dengan kondisi lembaga, serta kebutuhan individu dan masyarakat.
  3. Program pelayanan BK disusun dan diselenggarakan  secara  berkesinambungan.
  4. Pelaksanaan BK hendaknya dievaluasi secara berkala.

Prinsip-prinsip  berkenaan dengan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling:
  1. Pelayanan BK diarahkan agar klien dapat menghadapi setiap kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya.
  2. Keputusan yang diambil dan hendak dilakukan adalah kemauan klien sendiri.
  3. Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga ahli.
  4. BK dilaksanakan oleh tenaga ahli yang telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus.
  5. Kerjasama antara konselor dengan guru dan orang tua amat diperlukan.
  6. Guru dan konselor harus mengembangkan peranan yang saling melengkapi untuk mengurangi hambatan yang ada pada lingkungan siswa.
  7. Perlu adanya program pengukuran dan penilaian terhadap individu serta pengadminstrasian data yang baik.
  8. Organisasi program bimbingan hendaknya flek-  sibel, disesuaikan dengan kebutuhan individu dan lingkungannya.
  9. Tanggung jawab  pengelolaan program dipegang oleh seorang pimpinan program yang terlatih dan terdidik secara khusus.
  10. Penilaian secara periodik perlu dilakukan terhadap program yang sedang berjalan.

Prinsip-prinsip berkenaan dengan Bimbingan dan Konseling Perkembangan:
  1. BK diperlukan oleh seluruh siswa.
  2. BK perkembangan memfokuskan pada pembelajaran siswa.
  3. Guru Pembimbing (Konselor) dan Guru adalah fungsionaris bersama dalam program bimbingan dan konseling perkembangan.
  4. Kurikulum yang diorganisasikan  dan  direncanakan merupakan bagian penting   dalam  bimbingan dan konseling perkembangan.
  5. Program bimbingan dan konseling perkembangan peduli pada  penerimaan diri, pemahaman diri, dan peningkatan diri.
  6. BK perkembangan memfokuskan pada proses mendorong perkembangan.
  7. BK perkembangan  lebih peduli pada pengembangan yang  terarah   dari pada akhir perkembangan yang definitif.
  8. BK perkembangan-- sebagai tim oriented--menuntut  pelayanan dari konselor profesional.

Sumber :
  1. Fadhilah, Siti S. 2015. Presentasi Materi Bimbingan dan Konseling. Universitas Sebelas Maret : Surakarta

0 comments:

Posting Komentar