Teori Belajar dan Prinsip-Prinsipnya

, , No Comments

A.    Pengertian Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan bukan segala peralatan elektronik yang mengandung perangkat keras dan perangkat lunak, namun yang dimaksud teknologi pendidikan yaitu system untuk mengelola hasil hingga terdapat nilai tambah.
Unsur dalam teknologi pendidikan ada empat unsur, :
1.         Belajar
2.         Sumber-sumber
3.         Pendekatan system
4.         Pengelolaan
Dalam hal ini peserta didik melaksanakan sendiri belajar sedangkan guru dan perancangan pembelajaran sebagai pengaruh (penyedia fasilitas).
B.     Teori-teori Belajar
Ada beberapa teori belajar yang disampaikan dalam buku ini, sebagai berikut:
1.      Behaviourisme
Perilaku peserta didik akan berubah setelah belajar. Pada teori ini ada aksi ada reaksi, itulah inti behaviourisme. Pada siswa apabila perilakunya diberi respon yang positif (+) maka siswa akan cenderung mengulangi perilaku tersebut, dan apabila respon negative (-) maka siswa cenderung mengurangi perilakunya.
2.      Kognitivisme
Merupakan perilaku perubahan dalam belajar, berpikir dan penalaran. Pada dasarnya, perilaku pada teori ini dapat digambarkan peserta didik bereksperimen sendiri dalam hal belajar sehingga peserta didik dapat memperoleh sendiri suatu konsep yang sedang diapelajari walaupun sudah dijelaskan oleh gurunya. Jadi peserta didik menyatukan sendiri pengetahuan yang didapatnya dari bereksperimen dengan pengetahuan yang berasal dari gurunya tadi. Perkembangan kognitif ini memiliki beberapa faktor yaitu kematangan, pengalaman aktif, interaksi sosial dan equlibrasi.
Tahapan perkembangan anak menurut Piaget dibagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut:
a.       Tahap Sensorimotor (umur 1,5 - 2 tahun)                   : anak baru bisa mengenali, melihat, mendengar, menyentuh, dan membau objek-objek di sekitarnya.
b.      Tahap Praoperasional (umur 2 – 7 tahun)                    : penggunaan bahasa oleh anak menjadi lebih baik, ketika anak berbicara keras ataupun diam maka ia sedang berpikir.
c.       Tahap Operasional Konkrit (umur 7 – 11 tahun)        : mulai menggunakan logika orang dewasa namun hanya pada situasi konkrit. Berpikir logis tentang sesuatu yang dialami namun belum bisa mengambil hipotesis.
d.      Tahap Operasional Formal (umur 14 tahun keatas)     : sudah bisa berpikir logis dan mengambil hipotesis atas sesuatu yang terjadi. Anak sudah dapat mengerti apabila ia melakukan kesalahan maka akibatnya apa, dan ia akan berpikir untuk tidak melakukan kesalahaan lagi.
3.      Konstruktivisme
Dalam teori ini belajar digambarkan sebagai pentransformasi pengetahuan baru. Jadi peserta didik membentuk pengetahuan dari pengalaman-pengalamannya, struktur mental dan keyakinan yang digunakan untuk menginterprestasikan objek-objek serta peristiwa-peristiwa.
Prinsip teori ini :
1.         Memunculkan masalah yang relevan pada peserta didik
2.         Menstrukturkan belajar sekitar “ide besar”
3.         Menilai sudut pandang peserta didik
4.         Penyesuaian kurikulum untuk memunculkan perkiraan peserta didik
5.         Menilai kegiatan belajar peserta didik dalam konteks pembelajaran
4.      Pemrosesan Informasi
Disebut juga model linier karena kemajuan-kemajuan informasi melalui sistem sepanjang jalan lurus yang langsung. Menekankan bagaimana peserta didik menerima suatu informasi hingga diproses.


Keterangan:
Sensory Register                     :penyimpanan ingatan yang sangat singkat
Short Term Memory                 :informasi diidentifikasi dan diikuti, diteruskan ke struktur berikutnya
Long Term Memory                  :bentuk struktural yang menyimpan ingatan jangka panjang, melalui proses latihan dan pengulangan

C.    Prinsip-prinsip Pembelajaran
Teknologi pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari teori psikologi, terutama teori belajar dan hasil penelitian dalam bidang pembelajaran.
Prinsip-prinsip itu sebagai berikut:
1.      Respon-respon baru diulang sebagai akibat dari respon tersebut.
2.      Pengaruh kondisi dan tanda-tanda yang terdapat di lingkungan peserta didik yang mempengaruhi perilaku peserta didik.
3.      Memperkuat pengetahuan dan keterampilanyang telah dikuasai peserta didik.
4.      Belajar berupa respon terhadap tanda-tanda yang terbatas kemudian ditransfer pada situasi lain secara terbatas.
5.      Belajar menggeneralisasikan dan membedakan sesuatu yang kompleks.
6.      Memperhatikan status mental peserta didik untuk menghadapi pelajaran akan berpengaruh terhadap perhatian dan ketekunan selama proses belajar. 
7.      Memberi kegiatan yang terbagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik untuk penyelesaian tiap langkah akan membantu peserta didik.
8.      Memecah materi pelajaran yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil.
9.      Keterampilan tingkat tinggi seperti keterampilan memecahkan masalah.
10.  Memberi motivasi kepada peserta didik bahwa ia lebih mampu dalam keterampilan memecahkan masalah.
11.  Variasi penguasaan terhadap pelajaran yang terdahulu.
12. Dengan persiapan dapat membuat peserta didik mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik untuk membuat respon yang benar.

 Daftar Pustaka



0 comments:

Posting Komentar