Fenomena Mahasiswa PPL

, , 1 comment

Ini adalah hasil pengamatanku selama duduk di bangku sekolah menengah atas di kota Bandar Lampung. Fenomena Mahasiswa PPL adalah suatu hal yang tak asing lagi bagi para siswa di beberapa daerah, khususnya daerah yang memiliki perguruan tinggi keguruan ataupun perguruan tinggi dengan fakultas keguruan. Dapat juga dikatakan kalau ini seperti agenda tahunan di daerah tersebut.

Banyak cerita tragis ataupun menyenangkan yang aku dengar tentang mahasiswa PPL. Contoh cerita tragisnya yang aku dapatkan dari salah seorang teman SMA-ku, sebut saja dia Bunga (bukan nama sebenarnya). Ceritannya, ada seorang Mahasiswa PPL yang kursi dan tangannya diberi lem hingga menangis dikelas akibat ulah siswa di kelas tersebut.

Namun tidak semuanya bernasip tragis, ada juga Mahasiswa PPL yang justru akrab dan disenangi siswa-siswi SMA tersebut.  Bahkan ada yang sudah lulus kuliah, justu kembali ke Sekolah saat dia PPL.

Mungkin masih ada yang belum jelas tentang Mahasiswa PPL, karena sekolahnya belum pernah didatangi oleh Mahasiswa PPL. Mahasiswa PPL adalah para mahasiswa semester hampir akhir, untuk memenuhi tugas mata kuliah di semester tertentu, dan tentu saja ini PPL ini dapat dikatakan wajib untuk semua mahasiswa di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan atau biasa disingkat FKIP. Meeka ditempatkan selama dua atau tiga bulan bahkan lebih di sekolah yang telah ditunjuk oleh pihak perguruan tinggi.

Sejak kelas satu SMP aku sangat ingin mengamati Fenomena ini, tentu saja aku berusaha untuk mencari sudut pandang semua pihak yang terlibat dan berusaha menjadi pihak yang netral. Berikut sudut pandang positif dari adannya Mahasiswa PPL di sekolah:

1. Guru
  • Memperingan pekerjaan guru
  • Guru dapat berbagi pengetahuan baru tentang mata pelajaran yang dia ajarkan. Misalnya, saat ini banyak juga guru yang mengajar hanya menggunakan buku referensinya yang sudah usang, dengan adanya Mahasiswa PPL, guru dapat mendapatkan ilmu ter up to date , karena ilmu terus berkembang.


2. Siswa
  • Dapat mengusir kebosanan. Karena dengan adanya Mahasiswa PPL, siswa tidak bosan dengan satu pelajaran yang diajarkan oleh guru yang itu-itu saja.
  • Terkadang beberapa siswa lebih menyenangi guru PPL daripada guru mata pelajarannya yang asli karena terkadang lebih enak diajak bicara. Mungkin karena rentang umur yang tidak terlalu jauh.
  • Terkadang Mahasiswa PPL lebih murah nilai. Mungkin karena mereka teringat masa lalunya sebagai anak sekolahan atau karena sebab lainnya.
  • Mahasiswa PPL jarang ada yang killer.



3. Mahasiswa PPL
  • Dapat belajar jadi guru
  • Belajar berinteraksi dengan siswa dan guru
  • Belajar jadi pemimpin. Guru adalah pemimpin di kelas.
  • Belajar Ketegasan dan Kedisiplinan
  • Belajar menjadi sosok yang tahan banting dalam mengajar, dan masih banyak lagi.


Tetapi dibalik sisi positif diatas, ada satu pertanyaan yang mungkin dapat menjadi masalah, yaitu “Bagaimana kualitasnya?”. Guru merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan secara profesional, sedangkan Mahasiswa PPL sendiri belum lulus kuliah.

Kalau saja dihitung dari dampak kerugian dari adanya Mahasiswa PPL berdasarkan kualitasnya yang masih dipertannyakan. Contoh, jika Fenomena Mahasiswa PPL ini berlangsung selama tiga bulan dan masa sekolah menengah baik SMP ataupun SMA adalah tiga tahun, itu artinya siswa sekolah tersebut telah diajar dengan kualitas yang tidak diketahui keprofesionalannya selama sembilan bulan dari tiga puluh enam bulan masa waktunya di SMP atau SMA. Atau selama ¼ masa belajarnya di SMP atau SMA.

Tetapi uraian diatas itu secara teoritis saja. Menurutku percuma kualitas profesional tetapi tidak pintar menyampaikan materi ke anak didiknya. Untuk itu, selama berkuliah, seorang calon guru tersebut sebaiknya mengembangkan kemampuannya berbicara juga selain dari hal pengetahuan materi. Jadi kemampuan menyampaikan dan pengetahuan akan materi adalah hal yang sanagt penting.

Dapat kita ketahui kalau guru mata pelajaran tersebut juga bertanggung jawab atas Mahasiswa PPL tersebut, bukan berarti dengan adanya mahasiswa PPL, guru dapat pergi bertamasya sesuka hati.

Seorang guru harus memantau kelas yang diajakan oleh Mahasiswa PPL tersebut, agar materi yang disampaikan sesuai dengan jatah waktu ataupun silabus mata pelajaran tersebut. Jadi, peran guru mata pelajaran sangat penting untuk mengawasi kinerja mengajar Mahasiswa PPL tersebut. Sehingga guru dapat memberikan masukan untuk menjadi guru yang baik kepada Mahasiswa PPL tesebut dan Mahasiswa PPL tersebut tidak menambah populasi siswa yang kebingunan materi yang jutru membuat bertambahnya beban guru mata pelajaran kelas tersebut.

Bagi siswa, terkadang senang jika ada Mahasiswa PPL. Saat aku SMA sering sekali bertanya “Mereka itu bisa ngajar gak ya?”, ini bukan pertanyaan yang tak berdasar, karena terkadang ada Mahasiswa PPL yang bingung dengan mata pelajarannya sendiri dan dengan enteng menjawab, “itu materi yang udah lama jadi agak lupa”.

Dalam hati pun aku menjawab, “apa kalian tidak berpikir dampak kerugian secara kualitas yang telah kami terima sebagai anak SMA?” bukan bermaksud menyalahkan mereka atas perkataan tersebut. Guru memang dituntut untuk menguasai materinya sebagai keprofesionalannya tetapi mereka juga manusia yang dapat lupa.

Sedangkan saat aku bertanya kepada guru lain mengenai soal yang agak sulit yang mungkin dia sendiri lupa atapun dia tidak tahu atau bahkan tau tetapi ingin siswanya mencai lebih dahulu, mereka sempat bedalih dan berkata “hayo.. kerjain dulu, besok nanti ibu kasih tau”, atau berkata “ibu sedikit lupa, besok ibu kasih tau”, atau juga berkata, “kalau kamu gak tau, itu jadi PR kamu, kalau masih belum ketemu jawabannya nanti ibu kasih tau”.

Jawaban-jawaban itu lebih baik menurutku, setidaknya guru tersebut mempunyai waktu untuk mencari jawabannya dan membuat siswa tersebut juga termotivasi untuk mencari terlebih dahulu. Bukannya malah pasrah mengalami ketidaktahuan.

Seorang Mahasiswa PPL juga harus tegas saat mengajar, karena saat itu andalah gurunya dan terapkanlah aturan. Jadi jika sosok anda sebagai pemimpin kelas tidak muncul, bersiaplah menerima Bully dari siswa di kelas tersebut.

Walaupun anda sebagai Mahasiswa PPL harus tegas, anda juga harus menjadi orang yang santai dan enak diajak bicara dikelas. Itu dapat menjadi daya tarik kalian ketimbang menjadi guru yang killer dan tak ramah.
Permainan dalam belajar dapat menjadi siswa tidak bosan. Permainan disini tentunya harus berkaitan dengan mata pelajaran yang kalian ajarkan.

Kalian boleh sekali-kali boleh bercerita-cerita diluar materi pelajaran, asalkan materi yang harus disampaikan pada hari tersebut telah disampaikan dengan tuntas.

Mahasiswa PPL sangat dilarang diskriminatif bagi siswanya. Apalagi membeda-bedakan siswa/siswi dari wajah yang cantik, wajah tampan, wajah mirip mantan, wajah mirip kerabat, bentuk tubuh atletis, keluarga yang terpandang, anak tetangga, adik seperguruan, dan sebagainya. Jangan adanya anak emas dikelas, setarakan semuanya dan rangkul semuanya.

Berkatalah dengan Bahasa Indonesia yang efektif jangan dengan bahasa daerah, terkecuali jika anda Mahasiswa PPL pelajaran bahasa daerah. Jangan gunakan bahasa gaul, dikhawatirkan justru siswa nanti menganggap anda bukan sebagai guru melainkan pacarnya.

Ajarkanlah kepada siswa untuk memulai belajar dengan berdo’a.

Jangan mengatakan kepada siapapun jika suatu saat anda ternyata jatuh cinta kepada seorang siswa/siswi, apalagi sampai siswa/siswi tersebut tahu. Karena itu akan menggangu proses belajar mengajar kalau nantinya siswa/siswi risih “simpan ego-mu saat mengajar”. Apalagi kalau siswa/siswi menganggap kamu seperti bapak/ibunya sendiri, masa kamu mau pacaran dengan bapakmu sendiri.

Terkadang ada siswa/siswi yang justru jatuh cinta pada Mahasiswa PPL, dalam kasus ini anda harus bijak, kalau bisa menolak, karena itu dapat mengganggu proses belajar mengajar. Anda jangan sampai terjebak dilingkaran cinta monyet anak SMA.

Jangan menel! Ini pesan untuk Mahasiswa PPL wanita. Bersikaplah sopan karena sekolah itu bukan rumah anda. Bersikap ramahlan kepada semua.

Cerdaslah memainkan suasana kelas.

Banyak Mahasiswa PPL sangat grogi saat pertama kali masuk kelas dan peserta didik dapat melihatnya. Jadi anda harus meyakinkan diri anda kalau anda adalah seorang guru. Sebelum memulai ucapan pertama pertama-tama tariklah napas lalu hembuskan sambil ucapkan yang ingin anda katakan untuk menghilangkan grogi.

Pesan saya untuk anak SMP dan SMA:

  1. Ingat kata pepatah kalau “Guru adalah orang tua kedua selain orang tuamu di rumah” artinya jika mendurhakai guru, sama dengan mendurhakai orang tua. Mahasiswa PPL pada saat mengajar adalah seorang guru dan itu artinya jika mendurhakai dia, sama dengan mendurhakai orang tua.
  2. Mahasiswa PPL adalah tamu disekolah kalian jadi buatlah mereka nyaman disekolah kalian dengan kenangan yang indah.
  3. Siswa yang baik itu bukan nilai ujian yang 100. Tetapi bagaimana juga cara siswa/siswi tersebut menghargai gurunya dan mengikuti pelajarannya dengan baik. 
  4. Bayangkan diri anda sebagai Mahasiswa PPL tersebut!



1 komentar:

  1. Artikelnya keren berupa analisa sangat membantu dalam kajian ilmiah. Yang sangat saya perlukan makasih.

    BalasHapus