Berkas:PanellusStipticusAug12 2009 Animated.gif


Bioluminesensi adalah emisi cahaya yang dihasilkan oleh makhluk hidup disebabkan adanya reaksi kimia tertentu. Hingga saat ini, Bioluminesensi telah ditemukan secara alami pada berbagai macam makhluk hidup seperti jamur, bakteri, dan organisme di perairan, namun tidak ditemukan pada tanaman berbunga, hewan vertebrata terestrial, amfibi, dan mamalia.

Sebagian besar plankton memiliki kemampuan menghasilkanpendaran, terutama plankton yang hidup di perairan laut dalam. Pada mikroba, Bioluminesensi yang dihasilkan belum diketahui manfaatnya, sedangkan pada hewan umumnya digunakan sebagai sinyal kawin, predasi, dan perlindungan terhadap pemangsa.
Banyak bakteri yang dapat menghasilkan Bioluminesensi, umumnya diketahui kemudian bahwa seluruh bakteri tersebut tergolong ke dalam bakteri gram negatif,motil, memiliki morfologi batang, dan bersifat aerob atau anaerob fakultatif.

Bakteri-bakteri itu tersebar di daerah lautan, perairan tawar, dan tanah (terestrial). Contoh bakteri penghasil Bioluminesensi yang telah diteliti adalah genus Vibrio (V. harveyi, V. fischeri, V. cholera), Photobacterium (P. phosphoreum, P. leiognathi), Xenorhabdus (X. luminescens), Alteromonas (A. haneda), dan Shewanella. Sementara itu, hanya sedikit cendawan yang diketahui dapat menghasilkan Bioluminesensi, di antaranya adalah Armillaria mellea, Panellus Stipticus, Omphalotus nidiformis, dan Mycena sp.


Sejarah


Bioluminesensi sudah dikenalkan 500 SM oleh Aristoteles dalam bukunya yang berjudul "Tentang Warna". Aristoteles menyebutkan bahwa ada sesuatu yang secara alami seperti bagian kepala ikan dan tinta dari sotong yang dapat menghasilkan cahaya atau pendaran.

Pada tahun 1887, Raphaƫl Dubois berhasil mengisolasi lusiferin (substrat untuk reaksi Bioluminesensi) dan enzim lusiferase (ketalis) dari piddock, sejenis remis laut. Temuan tersebut dipopulerkan dan dilanjutkan oleh Edmund Newton Harvey yang menyatakan bahwa senyawa lusiferin dan lusiferase yang ditemukan pada berbagai spesies makhluk hidup tidak dapat ditukar.

Pada tahun 1967, Robert Boyle, seorang ilmuwan dari Inggris mempublikasikan penelitiannya tentangreaksi Bioluminesensi pada fungi yang memerlukan udara. Laporan berikutnya menyebutkan bahwa oksigen merupakan komponen udara yang berperan dalam reaksi tersebut.

Penelitian tentang Bioluminesensi berkembang pesat setelah Osamu Shimomura, seorang ahli biologi kelautan dan kimia organik, berhasil meneliti tentang protein yang bertanggungjawab dalam menghasilkan luminesensi pada spesies ubur-ubur Aequorea victoria yang disebut dengan aequorin. Protein tersebut akan berikatan dengan ion kalsium dan menghasilkan cahaya biru yang diserap olehprotein berpendar hijau ubur-ubur. Pada tahun 1985, aequorin berhasil dikloning ke dalam makhluk hidup lainnya dan sejak itu aplikasi Bioluminesensi mulai banyak diteliti.

Fungsi Bioluminisensi


Bioluminesensi memiliki  fungsi yang berbeda-beda bagi tiap makhluk yang memilikinya. Sebagian makhluk hidup memanfaatkannya untuk pertahanan diri, seperti yang dilakukan kelompok Dinoflagelata, Ubur-ubur, dan beberapa jenis Cumi-cumi yang bercahaya untuk mengejutkan pemangsa yang mendekatinya sehingga memberikan kesempatan kepadanya untuk melarikan diri. Beberapa jenis Dekapoda, Sefalopoda, dan Ikan menggunakan kemampuan bercahaya untuk melakukan kamuflase dalam menghindari pemangsanya. Mekanisme pertahanan seperti ini disebut dengan penyamaran dengan sinar (kontrailuminasi) yang membuat suatu makhluk hidup tidak terlihat atau tersamarkan di antara sinar lain di lingkungan perairan. Pada spesies Bintang ular laut, Cacing laut,  dan organisme bioluminesensi di daratan, mereka memiliki mekanisme pertahanan yang disebut Aposematisme, yaitu menghasilkan pendaran untuk menandakan bahwa makhluk tersebut memiliki toksik (beracun) atau tidak enak dimakan sehingga pemangsa akan menghindarinya.
Pendaran pada larva kunang-kunang juga merupakan salah satu bentuk Aposematisme yang melindunginya dari predator karena akan dikenali sebagai makanan yang tidak enak atau tidak menguntungkan.

Beberapa organisme di laut tidak suka memakan Zooplankton karena sebagian besar Zooplankton memiliki kemampuan bercahaya yang tetap dapat terlihat saat mereka berada di dalam perut pemangsanya. Akibatnya organisme yang memakan zooplankton tampak berpendar dan ini membuatnya mudah dikenali dan diburu oleh pemangsa yang lebih tinggi tingkatannya. Fenomena ini terlihat pada peristiwa Dinoflagelata yang menjadi makanan Udang misid. Udang tersebut akan tampak berluminesensi karena di dalam tubuhnya terdapat dinoflagelata bercahaya sehingga ikan Porichthys notatus dapat lebih mudah memburu dan memakan udang itu.

Hiu I. brasiliensis memiliki bagian bawah rahang yang berpendar dan tampak seperti siluet yang dihasilkan dari penyamaran dengan sinar. Akibatnya cumi dan ikan akan mendekat karena mengira siluet tersebut merupakan penyamaran dari mangsa mereka. Setelah cumi atau ikan mendekati rahangnya, akan lebih mudah untuk hiu ini dalam menangkap makanannya. Hal serupa juga dilakukan oleh Paus sperma (Physeter macrocephalus) yang secara intensif menghasilkan pendaran saat berburu mangsa di perairan laut dalam yang gelap. Mangsa yang berupa cumi-cumi akan datang mendekati bagian mulut paus sperma yang berpendar dan saat itulah paus ini menangkap mangsanya.

Reaksi Bioluminesensi


Secara umum, reaksi bioluminesensi melibatkan enzim lusiferase dan substrat lusiferin yang strukturnya dapat berbeda antara organisme yang satu dengan lainnya. Berikut ini adalah beberapa jenis lusiferin yang telah diketahui mekanisme dan strukturnya.
Bakteri

Reaksi yang menyebabkan terjadinya pendaran pada bakteri adalah sebagai berikut:
Bioluminescence reaction.jpg

Dinoflagelata

Pada dinoflagelata, substrat lusiferin yang berperan adalah tetrapirol yang mirip dengan klorofil namun berbeda pada ion metalnya. Struktur lusiferin yang seperti hampir sama juga ditemukan pada sejenisudang yang bergenus euphausiid. Pada salah atu genus dinoflagelata yaitu Gonyaulax, diketahui bahwa pada pH 8 molekul lusiferinnya akan berikatan dan dilindungi oleh protein pengikat lusiferin. Namun begitu terjadi perubahah pH menjadi ± 6, luciferin akan mengalami perubahan konformasi dan mengakibatkan sisi aktinya bebas dan dihasilkan pendaran cahaya.

Coelenterazine
Coelenterazine adalah jenis lusiferin dengan struktur imidazopyrazinone yang sangat banyak ditemukan pada makhluk hidup, terutama di lingkungan perairan. Telah diketahui bahwa ada enam filum makhluk hidup yang menggunakan lusiferin jenis ini, di antaranya adalah kopepoda, radiolaria,ctenophore, cnidarian, cumi, serta beberapa jenis ikan dan udang. Selain lusiferase, lusiferin jenis ini memiliki fotoprotein yang disebut aequorin untuk membantu penghasilan emisi cahaya.

Aplikasi Bioluminisensi


Adanya penemuan tentang bioluminesensi telah dimanfaatkan manusia di dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang medis. Di bidang tersebut bioluminesensi dimanfaatkan untuk mendeteksi keberadaan sel kanker dalam tubuh secara lebih cepat melalui suatu teknologi baru yang disebut bioluminescence imaging (BLI).

Dengan BLI, ukuran dan lokasi sel kanker dalam tubuh dapat diketahui sehingga tindakan perawatan yang tepat dapat ditentukan. Temuan ini juga dapat mempermudah riset mengenai perawatan atau obat kanker yang efektif dapat mengatasi penyakit tersebut karena perkembangan sel tumor dapat dipantau dengan lebih mudah.

Selain itu, bioluminesensi juga telah dimanfaatkan sebagai gen pelapor untuk melihat perkembangan atau ploriferasi sel punca manusia. Penggunaan bioluminesensi sebagai gen pelapor juga telah diaplikasikan pada tanaman transgenik hasil rekayasa genetika. Salah satu penelitian yang telah dilakukan adalah penggunaan gen dari kunang-kunang pada tanaman tembakautransgenik yang diinfeksi dengan Agrobacterium tumefaciens untuk mengamati ekspresi dari gen yang dimasukkan ke tanamantembakau tersebut.

Dalam bidang ekologi, mikroorganisme penghasil luminesensi juga dapat digunakan untuk pembuatan biosensor untuk mendeteksi keberadaan polutan atau kontaminan tertentu di lingkungan. Salah satu contoh yang telah diaplikasikan adalah pembuatan biosensor untuk deteksi senyawa ekotoksik organotin. Dalam industri makanan, bioluminesensi yang memanfaakan penggunaan ATP juga telah dimanfaatkan untuk mendeteksi mikroba patogen yang terkandung di dalam makanan.


Mahluk yang dikenal dapat bercahaya


Hewan Bioluminesensi rekayasa manusia

Para ilmuwan telah mengembangkan hubungan cinta dalam setengah dekade terakhir untuk sesuatu yang disebut GFP, atau Green Fluorescing Protein.
Ini semacam cairan ataupun tinta yang dimasukkan ke dalam banyak hal yang bisa jadi berbahaya ataupun kadang tidak sama sekali..Para ilmuwan telah menggunakannya sebagai penanda genetik untuk mempelajari segala sesuatu dari genetika untuk membuat ikan yang waspada pada pencemaran (tujuan dari adanya ikan glofish). Cairan ini adalah Protein awalnya berasal dari ubur-ubur bercahaya


Kunang-kunang Raksasa (Lamprigera)


Sangat sedikit informasi online tersedia, tetapi ternyata Kunang-kunang Raksasa (Lamprigera) cukup dikenal baik oleh penduduk lokal di Thailand.

Jamur bercahaya


Ada beberapa spesies jamur yang bersinar dalam gelap. Yang digambarkan di atas adalah Stipticus panellus, dan mereka bersinar cukup terang sehingga terlihat bahkan dalam cahaya rendah (sebagai lawan gelap gulita) Anda bahkan dapat membeli beberapa jamur bercahaya ini dan menanamkan sendiri. Sebagian besar spesies tidak bersinar seterang stipticus, dan cahaya hanya bisa dilihat di bawah mikroskop atau di dalam gelap gulita , tapi Panellus bisa terlihat seperti di atas .

Kalajengking


Kalajengking tidak benar-benar menghasilkan cahaya mereka sendiri, seperti jamur, tapi mereka bersinar di bawah Blacklight seperti uang asli yang yang berada di neon biru . Mereka memiliki zat kimia dalam exoskeleton mereka yang bersinar bawah sinar ultraviolet.


Terriswalkeris terraereginae (Cacing Raksasa Auckland)


Terriswalkeris adalah cacing sepanjang dua meter, berwarna biru, dan meninggalkan jejak lendir bersinar. Ini terlihat seperti cacing raksasa bergetah, meskipun berasal dari tanah dari dalam tanah hewan ini tidak beracun.

Gua - gua Waitomo, Selandia Baru

Mereka menggantung berbaris dengan sinaran cahaya, hingga sebanyak tujuh puluh cacing, untuk menarik lalat dan ngengat demi mendapatkan santapan. Dan dalam beberapa spesies, umpan bercahaya mereka adalah ingus beracun! Bukankah mengagumkan bahwa alam bisa membuat sesuatu yang begitu cantik, namun juga begitu mengerikan?

Cumi-Cumi bercahaya

Ada makhluk yang hidup di laut dalam yang tidak murni sebagai peneror, dan Cumi-Cumi bercahaya ini merupakan salah satu dari mereka. Tubuhnya tercakup dalam photophores , sel yang menghasilkan cahaya, yang memungkinkan untuk bersinar dalam semua pola yang diinginkan.

Mereka bercahaya ketika berada di bawah saat siang, dan mereka bisa mencocokkan pola dan keremangan cahaya yang berasal dari permukaan.Hal ini memungkinkan mereka untuk menyamarkan diri terhadap cahaya. Mereka juga menyalakan seluruh tubuh mereka selama musim kawin dan waktu hidup mereka hanya satu tahun.

Jadi dengan hidup yang demikian pendek ini mengapa kita tidak membuatnya penuh dengan cahaya ?

Ubur-Ubur Aequorea

Spesies ini hidup sekitar Amerika Utara, meskipun ubur-ubur yang menghasilkan protein bercahaya adalah hewan asli dari Asia.
Mereka hampir tidak terlihat ketika mereka tidak bersinar, tetapi kabar baiknya adalah bahwa ukuran ubur - ubur Aequorea ini kecil dan tidak akan mengirim Anda ke rumah sakit seperti Ubur-ubur kotak yang beracun.
Ubur-ubur ini sering diambil selnya oleh para ilmuan untuk menciptakan mahluk bioluminesensi buatan.

Bakteri Bioluminesensi

Berikut fakta unik, bahwa sejumlah besar hewan bercahaya sebenarnya hanya segerombolan bakteri yang menghasilkan cahaya. Hewan seperti Angler Fish (seperti di film animasi ‘Nemo’) dan beberapa jenis udang adalah rumah dari koloni bakteri bercahaya.

Dinoflagellates

Dinoflagellates adalah Protozoa / plankton yang bertanggung jawab untuk fenomena laut yang bercahaya saat mereka muncul di permukaan laut. Dinoflagellata ini juga menyebabkan laut pasang berwarna merah, tetapi mereka hanya bersinar ketika terganggu , oleh perenang, atau bahkan gelombang. dan saat bersinar itu adalah momen menakjubkan untuk diamati. Aku belum pernah melihat mereka dengan mata saya sendiri, tetapi gambar saja sudah cukup untuk membuatku diam dan terpaku pada kebesaran karya sempurna dari sang pembuat hidup ..

Dalam segi bahasa, profesi memiliki artian:

Yunani, “Propbaino” = Menyatakan secara Publik.

Latin, “Professio” = menunjukkan pernyataan publik yg dibuat oleh seseorang yang bermaksud menduduki jabatan publik.

Politikus Romawi harus melakukan “Professio” di depan publik sebagai persyaratan menduduki jabatan tersebut.

Profesi = Pekerjaan yang dilakukan atas dasar janji publik dan sumpah.


Syarat :


  1. Prestise
  2. Kehormatan
  3. Status Sosial
  4. Otonomi
  5. Keahlian
  6. Kompetensi
  7. Spesialis

(memerlukan pendidikan yang relatif lama dan perijinan yang diberikan oleh negara)

Anggota profesi berwenang mengatur diri mereka sendiri, menentukan standar, mengatur syarat bergabung, mengatur standar perilaku para anggotanya yang dibakukan dalam suatu kode etik profesional oleh asisiasi/organisasi profesi

Richey (1962:208), Profesi mensyaratkan para anggotanya:



  1. Komitmen menjunjung tinggi martabat kemanusiaan daripada kepentingan diri sendiri
  2. Menjalani pendidikan dalam jangka waktu tertentu
  3. Mengembangkan pengetahuan
  4. Memiliki Kode Etik Jabatan
  5. Memiliki kekuatan Intelektual untuk memecahkan masalah
  6. Belajar lebih dalam dalam suatu bidang keahlian
  7. Life career
  8. Menjadi anggota organisasi profesi




Ciri Profesi
menurut Chandler:


  1. Lebih mementingkan layanan Kemanusiaan dibanding kepentingan pribadi
  2. Diakui statusnya tinggi oleh masyarakat
  3. Praktek profesi didasarkan suatu penguasaan pengetahuan khusus
  4. Ditantang untuk memiliki keaktifan intelektual
  5. Memiliki standar kualifikasi profesional yang ditetapkan dan dijamin oleh organisasi profesi
  6. Memiliki kode etik


menurut More (1970):


  1. Menggunakan waktu penuh dalam pekerjaannya
  2. Terikat oleh suatu panggilan hidup (norma perilaku)
  3. Anggota organisasi profesi formal
  4. Pendidikan spesialisasi khusus
  5. Terikat syarat-syarat kompetensi khusus
  6. Memiliki otonomi sesuai dengan spesialisasi


Berdasar berbagai teori, Richey (1962), Chandler, More, Greewood, Volmer, Liberman, dll dapat ditarik kesimpulan bahwa:


  1. Menggunakan waktu penuh
  2. Seperangkat Norma kepatuhan dan perilaku
  3. Derajat otonomi tinggi
  4. Pengetahuan yang terus tumbuh
  5. Memiliki Kode etik jabatan


Pengakuan Profesi
Profesi merupakan bidang kajian ilmu yang memiliki pengakuan kekuasaan akibat dari keahliannya
Semua Profesi memiliki pengakuan Kekuasaan Apabila pengguna jasa pelayanan profesi mengetahui bahwa mereka akan menerima layanan yang baik sesuai dengan standar profesional dan memiliki komitmen dalam mematuhi kode etik profesi


Ini adalah hasil pengamatanku selama duduk di bangku sekolah menengah atas di kota Bandar Lampung. Fenomena Mahasiswa PPL adalah suatu hal yang tak asing lagi bagi para siswa di beberapa daerah, khususnya daerah yang memiliki perguruan tinggi keguruan ataupun perguruan tinggi dengan fakultas keguruan. Dapat juga dikatakan kalau ini seperti agenda tahunan di daerah tersebut.

Banyak cerita tragis ataupun menyenangkan yang aku dengar tentang mahasiswa PPL. Contoh cerita tragisnya yang aku dapatkan dari salah seorang teman SMA-ku, sebut saja dia Bunga (bukan nama sebenarnya). Ceritannya, ada seorang Mahasiswa PPL yang kursi dan tangannya diberi lem hingga menangis dikelas akibat ulah siswa di kelas tersebut.

Namun tidak semuanya bernasip tragis, ada juga Mahasiswa PPL yang justru akrab dan disenangi siswa-siswi SMA tersebut.  Bahkan ada yang sudah lulus kuliah, justu kembali ke Sekolah saat dia PPL.

Mungkin masih ada yang belum jelas tentang Mahasiswa PPL, karena sekolahnya belum pernah didatangi oleh Mahasiswa PPL. Mahasiswa PPL adalah para mahasiswa semester hampir akhir, untuk memenuhi tugas mata kuliah di semester tertentu, dan tentu saja ini PPL ini dapat dikatakan wajib untuk semua mahasiswa di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan atau biasa disingkat FKIP. Meeka ditempatkan selama dua atau tiga bulan bahkan lebih di sekolah yang telah ditunjuk oleh pihak perguruan tinggi.

Sejak kelas satu SMP aku sangat ingin mengamati Fenomena ini, tentu saja aku berusaha untuk mencari sudut pandang semua pihak yang terlibat dan berusaha menjadi pihak yang netral. Berikut sudut pandang positif dari adannya Mahasiswa PPL di sekolah:

1. Guru
  • Memperingan pekerjaan guru
  • Guru dapat berbagi pengetahuan baru tentang mata pelajaran yang dia ajarkan. Misalnya, saat ini banyak juga guru yang mengajar hanya menggunakan buku referensinya yang sudah usang, dengan adanya Mahasiswa PPL, guru dapat mendapatkan ilmu ter up to date , karena ilmu terus berkembang.


2. Siswa
  • Dapat mengusir kebosanan. Karena dengan adanya Mahasiswa PPL, siswa tidak bosan dengan satu pelajaran yang diajarkan oleh guru yang itu-itu saja.
  • Terkadang beberapa siswa lebih menyenangi guru PPL daripada guru mata pelajarannya yang asli karena terkadang lebih enak diajak bicara. Mungkin karena rentang umur yang tidak terlalu jauh.
  • Terkadang Mahasiswa PPL lebih murah nilai. Mungkin karena mereka teringat masa lalunya sebagai anak sekolahan atau karena sebab lainnya.
  • Mahasiswa PPL jarang ada yang killer.



3. Mahasiswa PPL
  • Dapat belajar jadi guru
  • Belajar berinteraksi dengan siswa dan guru
  • Belajar jadi pemimpin. Guru adalah pemimpin di kelas.
  • Belajar Ketegasan dan Kedisiplinan
  • Belajar menjadi sosok yang tahan banting dalam mengajar, dan masih banyak lagi.


Tetapi dibalik sisi positif diatas, ada satu pertanyaan yang mungkin dapat menjadi masalah, yaitu “Bagaimana kualitasnya?”. Guru merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan secara profesional, sedangkan Mahasiswa PPL sendiri belum lulus kuliah.

Kalau saja dihitung dari dampak kerugian dari adanya Mahasiswa PPL berdasarkan kualitasnya yang masih dipertannyakan. Contoh, jika Fenomena Mahasiswa PPL ini berlangsung selama tiga bulan dan masa sekolah menengah baik SMP ataupun SMA adalah tiga tahun, itu artinya siswa sekolah tersebut telah diajar dengan kualitas yang tidak diketahui keprofesionalannya selama sembilan bulan dari tiga puluh enam bulan masa waktunya di SMP atau SMA. Atau selama ¼ masa belajarnya di SMP atau SMA.

Tetapi uraian diatas itu secara teoritis saja. Menurutku percuma kualitas profesional tetapi tidak pintar menyampaikan materi ke anak didiknya. Untuk itu, selama berkuliah, seorang calon guru tersebut sebaiknya mengembangkan kemampuannya berbicara juga selain dari hal pengetahuan materi. Jadi kemampuan menyampaikan dan pengetahuan akan materi adalah hal yang sanagt penting.

Dapat kita ketahui kalau guru mata pelajaran tersebut juga bertanggung jawab atas Mahasiswa PPL tersebut, bukan berarti dengan adanya mahasiswa PPL, guru dapat pergi bertamasya sesuka hati.

Seorang guru harus memantau kelas yang diajakan oleh Mahasiswa PPL tersebut, agar materi yang disampaikan sesuai dengan jatah waktu ataupun silabus mata pelajaran tersebut. Jadi, peran guru mata pelajaran sangat penting untuk mengawasi kinerja mengajar Mahasiswa PPL tersebut. Sehingga guru dapat memberikan masukan untuk menjadi guru yang baik kepada Mahasiswa PPL tesebut dan Mahasiswa PPL tersebut tidak menambah populasi siswa yang kebingunan materi yang jutru membuat bertambahnya beban guru mata pelajaran kelas tersebut.

Bagi siswa, terkadang senang jika ada Mahasiswa PPL. Saat aku SMA sering sekali bertanya “Mereka itu bisa ngajar gak ya?”, ini bukan pertanyaan yang tak berdasar, karena terkadang ada Mahasiswa PPL yang bingung dengan mata pelajarannya sendiri dan dengan enteng menjawab, “itu materi yang udah lama jadi agak lupa”.

Dalam hati pun aku menjawab, “apa kalian tidak berpikir dampak kerugian secara kualitas yang telah kami terima sebagai anak SMA?” bukan bermaksud menyalahkan mereka atas perkataan tersebut. Guru memang dituntut untuk menguasai materinya sebagai keprofesionalannya tetapi mereka juga manusia yang dapat lupa.

Sedangkan saat aku bertanya kepada guru lain mengenai soal yang agak sulit yang mungkin dia sendiri lupa atapun dia tidak tahu atau bahkan tau tetapi ingin siswanya mencai lebih dahulu, mereka sempat bedalih dan berkata “hayo.. kerjain dulu, besok nanti ibu kasih tau”, atau berkata “ibu sedikit lupa, besok ibu kasih tau”, atau juga berkata, “kalau kamu gak tau, itu jadi PR kamu, kalau masih belum ketemu jawabannya nanti ibu kasih tau”.

Jawaban-jawaban itu lebih baik menurutku, setidaknya guru tersebut mempunyai waktu untuk mencari jawabannya dan membuat siswa tersebut juga termotivasi untuk mencari terlebih dahulu. Bukannya malah pasrah mengalami ketidaktahuan.

Seorang Mahasiswa PPL juga harus tegas saat mengajar, karena saat itu andalah gurunya dan terapkanlah aturan. Jadi jika sosok anda sebagai pemimpin kelas tidak muncul, bersiaplah menerima Bully dari siswa di kelas tersebut.

Walaupun anda sebagai Mahasiswa PPL harus tegas, anda juga harus menjadi orang yang santai dan enak diajak bicara dikelas. Itu dapat menjadi daya tarik kalian ketimbang menjadi guru yang killer dan tak ramah.
Permainan dalam belajar dapat menjadi siswa tidak bosan. Permainan disini tentunya harus berkaitan dengan mata pelajaran yang kalian ajarkan.

Kalian boleh sekali-kali boleh bercerita-cerita diluar materi pelajaran, asalkan materi yang harus disampaikan pada hari tersebut telah disampaikan dengan tuntas.

Mahasiswa PPL sangat dilarang diskriminatif bagi siswanya. Apalagi membeda-bedakan siswa/siswi dari wajah yang cantik, wajah tampan, wajah mirip mantan, wajah mirip kerabat, bentuk tubuh atletis, keluarga yang terpandang, anak tetangga, adik seperguruan, dan sebagainya. Jangan adanya anak emas dikelas, setarakan semuanya dan rangkul semuanya.

Berkatalah dengan Bahasa Indonesia yang efektif jangan dengan bahasa daerah, terkecuali jika anda Mahasiswa PPL pelajaran bahasa daerah. Jangan gunakan bahasa gaul, dikhawatirkan justru siswa nanti menganggap anda bukan sebagai guru melainkan pacarnya.

Ajarkanlah kepada siswa untuk memulai belajar dengan berdo’a.

Jangan mengatakan kepada siapapun jika suatu saat anda ternyata jatuh cinta kepada seorang siswa/siswi, apalagi sampai siswa/siswi tersebut tahu. Karena itu akan menggangu proses belajar mengajar kalau nantinya siswa/siswi risih “simpan ego-mu saat mengajar”. Apalagi kalau siswa/siswi menganggap kamu seperti bapak/ibunya sendiri, masa kamu mau pacaran dengan bapakmu sendiri.

Terkadang ada siswa/siswi yang justru jatuh cinta pada Mahasiswa PPL, dalam kasus ini anda harus bijak, kalau bisa menolak, karena itu dapat mengganggu proses belajar mengajar. Anda jangan sampai terjebak dilingkaran cinta monyet anak SMA.

Jangan menel! Ini pesan untuk Mahasiswa PPL wanita. Bersikaplah sopan karena sekolah itu bukan rumah anda. Bersikap ramahlan kepada semua.

Cerdaslah memainkan suasana kelas.

Banyak Mahasiswa PPL sangat grogi saat pertama kali masuk kelas dan peserta didik dapat melihatnya. Jadi anda harus meyakinkan diri anda kalau anda adalah seorang guru. Sebelum memulai ucapan pertama pertama-tama tariklah napas lalu hembuskan sambil ucapkan yang ingin anda katakan untuk menghilangkan grogi.

Pesan saya untuk anak SMP dan SMA:

  1. Ingat kata pepatah kalau “Guru adalah orang tua kedua selain orang tuamu di rumah” artinya jika mendurhakai guru, sama dengan mendurhakai orang tua. Mahasiswa PPL pada saat mengajar adalah seorang guru dan itu artinya jika mendurhakai dia, sama dengan mendurhakai orang tua.
  2. Mahasiswa PPL adalah tamu disekolah kalian jadi buatlah mereka nyaman disekolah kalian dengan kenangan yang indah.
  3. Siswa yang baik itu bukan nilai ujian yang 100. Tetapi bagaimana juga cara siswa/siswi tersebut menghargai gurunya dan mengikuti pelajarannya dengan baik. 
  4. Bayangkan diri anda sebagai Mahasiswa PPL tersebut!




Nama Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Akademi Perikanan Bitung (APB), Akademi Perikanan Sidoarjo (APS), Akademi Perikanan Sorong (APSOR), Sekolah Tinggi Perikanan Bogor, Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan Lapangan Serang, Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri Ladong (SUPM N Ladong), SUPM N Pariaman, SUPM N Tegal, SUPM N Bone, SUPM N Kota Agung, SUPM N Pontianak, SUPM N Waheru, SUPM N Sorong.

Dinas : Kementrian Kelautan dan Perikanan

Website : Secara keseluruhan dirangkum dan dikumpulkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan di www.pusdik.kkp.go.id

Nama Kampus : Akademi Fisioterapi, Akademi Perawatan, Akademi Teknik Medik

Dinas  : Kementrian Kesehatan

Website : Tidak ditemukan website resmi mereka, hanya ada link yang memberikan infonya saja, http://akademifisioterapisurakarta.blogspot.com/2012/11/akademi-fisioterapi-surakarta.html
http://akperpemprov.jatengprov.go.id/
http://atem.ac.id/ver1.1/


Nama Kampus : Politeknik LPP Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agribisnis Perkebunan (STIP-AP), Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Medan (STPP Medan), Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Gowa (STPP Gowa), Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang (STPP Malang), Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor (STPP Bogor).

Dinas  : Kementrian Perrtanian, Perkebunan, dan Kehutanan

Website : www.politeknik-lpp.ac.id; www.stipap.ac.id; www.stppmedan.ac.id; www.stpp-malang.ac.id; www.stppgowa.ac.id; www.stppbogor.ac.id