Hewan laut yang hidup di palung Mariana, tempat terdalam di bumi (en.wikipedia.org)

VIVAnews - Puncak Gunung Everest, yang berada di ketinggian 8.848 meter merupakan titik tertinggi yang ada di planet Bumi. Lalu, di manakah titik terendah yang ada di permukaan bumi?

Dengan kedalaman mencapai 11.030 meter di bawah permukaan laut, palung Mariana merupakan kawasan terendah di permukaan Bumi. Palung ini berada di samudera Pasifik, di sekitar timur laut Indonesia atau selatan Jepang.

Saking dalamnya, tekanan air di dasar palung itu mencapai 8 ton per inci persegi. Artinya, ada beban seberat 8 ton yang ditampung oleh ruang seluas 1 inci persegi.

Sebagai gambaran, di permukaan laut, tekanan udara yang mengelilingi tubuh kita adalah 15 pound atau 0,0075 ton per inci persegi. Manusia tanpa perlengkapan pernafasan bantuan tak akan mampu bertahan pada tekanan 355 pound atau 0,1775 ton per inci persegi. Apalagi 8 ton.

Lalu, adakah kehidupan di kedalaman laut seperti itu? Ternyata ada, dan luar biasa indahnya. Berikut foto: Misteri Hewan Laut Dalam.

Sebagai contoh, paraliparis Copei Copei. Ia hidup di kedalaman 200 – 1692 meter. Ukurannya 17cm. Hewan lain, misalnya Glowing Sucker Octopus (Stauroteuthis Syrtensis) hidup di kedalaman 2500 meter. Ukurannya bisa mencapai 50cm.

Dumbo Octopus (Grimpoheuthis), bisa hidup di kedalaman 300-5000 meter. Ukuran hingga hewan ini mencapai 150 cm. Ada pula Hirondellea gigas yang bisa hidup di kedalaman 10.900 m, dan masih banyak lagi.  (Frozenly.com, Edliadi)
• VIVAnews

 10 Tumbuhan Carnivora Terkenal di Dunia

Ciri khusus dari tanaman karnivora antara lain mampu menarik mangsa (berdasarkan bentuk, warna, bau, atau sarana lainnya), menjebak mangsa, mencerna mangsa, dan menyerap hasil cerna. Cara mencerna mangsa utamanya dengan menggunakan enzim pencerna dan aktivitas bakteri. Beberapa tanaman karnivora tidak memproduksi enzim dan hanya mengandalkan peruraian oleh bakteri saja. Organ pencerna tanaman karnivora adalah daun yang termodifikasi. Ada satu tanaman yang tidak bersifat karnivora namun bijinya menunjukkan sifat tersebut, yaitu Capsella bursa-pastoris (Brassicaceae). Biji tanaman ini mampu menarik, membunuh, dan mencerna protozoa, nematoda, dan bakteri.

Jenis Tanaman Karnivora Ada sekitar 600 spesies tanaman karnivora.
dan saat ini hanya menampilkan top 10 tambahan karnivora.

10.Portuguese sundew (Drosophyllaceae lusitanicum) adalah tanaman asli Portugal, Spanyol dan Maroko, dan merupakan salah satu dari beberapa tanaman karnivora tumbuh di tempat kering, tanah alkalin. Tanaman ini memiliki aroma yang berbeda, yang menarik mangsa serangga di atas. Serangga yang tertangkap oleh lendir yang dikeluarkan oleh kelenjar yang terdapat pada daun.

9.Tanaman Cobra atau California pitcher plant (Darlingtonia) ditemukan di utara California dan Oregon, tinggal di rawa dan di air yang mengalir. Daun berbentuk tabung yang tampak seperti kobra dengan daun bercabang. Tidak seperti kendi lain-tumbuhan, daunnya tidak menghasilkan apa pun enzim pencernaan.

8.North American Pitcher Plant(sarracenia) telah berevolusi saluran untuk menjebak serangga. The saluran juga dapat 1 m (3.3 kaki) panjang. Mereka hidup di rawa-rawa asam di wilayah timur dan selatan Amerika Serikat Kanada. Serangga tertarik oleh nektar seperti sekresi di bibir pitchers, serta kombinasi warna dan aroma.


7.Mocassin plant or Western Australian pitcher plant (Cephalotus) tinggal di barat daya Australia. Tanaman ini juga memiliki Pitcher, tapi lebih pendek, dengan mulut yang lebih luas, dan ditempatkan lebih berkumpul.

6.Pitcher Plants (Nepenthes) mungkin memiliki perangkap yang paling spektakuler, bahkan jika di antara yang paling canggih fungsional. Tanaman ini tumbuh dari Madagaskar dan Asia tenggara ke timur laut Australia.

5.The Venus Fly Trap (Dionaea muscicapula) tinggal di rawa di North dan South Carolina (tenggara Amerika Serikat). Tanaman ini menangkap dan mencerna mangsa binatang (terutama serangga dan arakhnida) dengan perangkap yang dibentuk oleh terminal masing-masing bagian dari tanaman daun. Mekanisme yang terkunci menutup perangkap melibatkan interaksi kompleks antara elastisitas, turgor dan pertumbuhan.

4.Waterweel plant (Aldrovanda) adalah berkaitan dengan sundews. Satu-satunya spesies, ditemukan di Eropa, Asia, Afrika dan Australia, tinggal di dalam air. Perangkap diatur di sekitar pertengahan, batang mengambang bebas. Perangkap terdiri dari dua lobus yang flip bersama untuk membentuk sebuah snap-trap seperti buku yang terbuka. Perangkap ini, yang memutar sehingga titik bukaan perangkap luar, dibatasi di dalam oleh lapisan yang bagus memicu rambut, menjentikkan tutup sebagai tanggapan terhadap kontak dengan invertebrata air dan perangkap mereka.

3.Bladderworts (Utricularia dan Polypompholyx), terkait dengan butterworts, mewakili genus terbesar tanaman karnivora (lebih dari 200 jenis), bahkan lebih luas daripada sundews.

2.Butterworts (Pinguicula) tinggal di tempat-tempat basah di Amerika, Eropa dan utara Asia. Penggunaan tanaman ini lengket, kelenjar daun untuk memikat, menjebak, dan mencerna serangga.

1.Sundews (Drosera) yang diwakili oleh lebih dari 170 spesies. Ini adalah di antara yang paling luas tanaman karnivora, ditemukan di seluruh dunia, di semua benua (kecuali Antartika) dan bahkan di Selandia Baru.


Source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4717568
Ciri khusus dari tanaman karnivora antara lain mampu menarik mangsa (berdasarkan bentuk, warna, bau, atau sarana lainnya), menjebak mangsa, mencerna mangsa, dan menyerap hasil cerna. Cara mencerna mangsa utamanya dengan menggunakan enzim pencerna dan aktivitas bakteri. Beberapa tanaman karnivora tidak memproduksi enzim dan hanya mengandalkan peruraian oleh bakteri saja.

Organ pencerna tanaman karnivora adalah daun yang termodifikasi. Ada satu tanaman yang tidak bersifat karnivora namun bijinya menunjukkan sifat tersebut, yaitu Capsella bursa-pastoris (Brassicaceae). Biji tanaman ini mampu menarik, membunuh, dan mencerna protozoa, nematoda, dan bakteri.

Jenis Tanaman Karnivora Ada sekitar 600 spesies tanaman karnivora.dan saat ini hanya menampilkan top 10 tambahan karnivora.

10. Portuguese sundew (Drosophyllaceae lusitanicum)

Adalah tanaman asli Portugal, Spanyol dan Maroko, dan merupakan salah satu dari beberapa tanaman karnivora tumbuh di tempat kering, tanah alkalin. Tanaman ini memiliki aroma yang berbeda, yang menarik mangsa serangga di atas. Serangga yang tertangkap oleh lendir yang dikeluarkan oleh kelenjar yang terdapat pada daun.



9.Tanaman Cobra atau California pitcher plant (Darlingtonia) 

Ditemukan di utara California dan Oregon, tinggal di rawa dan di air yang mengalir. Daun berbentuk tabung yang tampak seperti kobra dengan daun bercabang. Tidak seperti kendi lain-tumbuhan, daunnya tidak menghasilkan apa pun enzim pencernaan.




8. North American Pitcher Plant (sarracenia)
T
elah berevolusi saluran untuk menjebak serangga. The saluran juga dapat 1 m (3.3 kaki) panjang. Mereka hidup di rawa-rawa asam di wilayah timur dan selatan Amerika Serikat Kanada. Serangga tertarik oleh nektar seperti sekresi di bibir pitchers, serta kombinasi warna dan aroma.




7. Mocassin plant or Western Australian pitcher plant (Cephalotus)

Tinggal di barat daya Australia. Tanaman ini juga memiliki Pitcher, tapi lebih pendek, dengan mulut yang lebih luas, dan ditempatkan lebih berkumpul.



6. Pitcher Plants (Nepenthes)

mungkin memiliki perangkap yang paling spektakuler, bahkan jika di antara yang paling canggih fungsional. Tanaman ini tumbuh dari Madagaskar dan Asia tenggara ke timur laut Australia.




5. The Venus Fly Trap (Dionaea muscicapula)

tinggal di rawa di North dan South Carolina (tenggara Amerika Serikat). Tanaman ini menangkap dan mencerna mangsa binatang (terutama serangga dan arakhnida) dengan perangkap yang dibentuk oleh terminal masing-masing bagian dari tanaman daun. Mekanisme yang terkunci menutup perangkap melibatkan interaksi kompleks antara elastisitas, turgor dan pertumbuhan.




4. Waterweel plant (Aldrovanda)

Adalah berkaitan dengan sundews. Satu-satunya spesies, ditemukan di Eropa, Asia, Afrika dan Australia, tinggal di dalam air. Perangkap diatur di sekitar pertengahan, batang mengambang bebas. Perangkap terdiri dari dua lobus yang flip bersama untuk membentuk sebuah snap-trap seperti buku yang terbuka. Perangkap ini, yang memutar sehingga titik bukaan perangkap luar, dibatasi di dalam oleh lapisan yang bagus memicu rambut, menjentikkan tutup sebagai tanggapan terhadap kontak dengan invertebrata air dan perangkap mereka.




3. Bladderworts (Utricularia dan Polypompholyx)

terkait dengan butterworts, mewakili genus terbesar tanaman karnivora (lebih dari 200 jenis), bahkan lebih luas daripada sundews.




2. Butterworts (Pinguicula)

Tinggal di tempat-tempat basah di Amerika, Eropa dan utara Asia. Penggunaan tanaman ini lengket, kelenjar daun untuk memikat, menjebak, dan mencerna serangga.




1. Sundews (Drosera) 

Diwakili oleh lebih dari 170 spesies. Ini adalah di antara yang paling luas tanaman karnivora, ditemukan di seluruh dunia, di semua benua (kecuali Antartika) dan bahkan di Selandia Baru.




Source : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4717568
Orangutan.jpg
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Primata
Famili: Hominidae
Upafamili: Ponginae
Elliot, 1912
Genus: Pongo
Lacépède, 1799
Tipe spesies
Simia pygmaeus
Linnaeus, 1760
Distribusi Orang utan
Distribusi Orang utan
Spesies
Pongo pygmaeus
Pongo abelii

Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.




Deskripsi

Istilah "orang utan" diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Orang utan mencakup dua spesies, yaitu orang utan sumatera (Pongo abelii) dan orang utan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). ] Yang unik adalah orang utan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%.

Ciri-Ciri

Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor.
Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter.
Tubuh orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi.
Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun yang besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah. Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.
Berat orangutan jantan sekitar 50-90 kg, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30-50 kg.
Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia.
Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse. Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yang mengarah kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman.

Klasifikasi

Orangutan termasuk hewan vertebrata, yang berarti bahwa mereka memiliki tulang belakang. Orangutan juga termasuk hewan mamalia dan primata.

 Spesies dan Subspesies

1. Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii).
2. Keturunan Orangutan Sumatra dan Kalimantan berbeda sejak 1.1 sampai 2.3 juta tahun yang lalu.
3. Subspecies
  • Pembelajaran genetik telah mengidentifikasi 3 subspesies Orangutan Borneo : P.p.pygmaeus, P.p.wurmbii, P.p.morio. Masing-masing subspesies berdiferensiasi sesuai dengan daerah sebaran geografisnya dan meliputi ukuran tubuh.
  • Orangutan Kalimantan Tengah (P.p.wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Mereka merupakan subspesies Borneo yang terbesar.
  • Orangutan Kalimantan daerah Timur Laut (P.p.morio) mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur. Mereka merupakan subspesies yang terkecil.
  • Saat ini tidak ada subspecies orangutan Kalimantan yang berhasil dikenali.

Lokasi dan habitat


Orang utan di Taman Nasional Kutai
Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatra dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl.
Orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatra. Orangutan di Sumatra hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Di Sumatra, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Utara. Populasi orangutan liar di Sumatra diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah.  Saat ini hampir semua Orangutan Sumatra hanya ditemukan di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya [[danau], yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi orangutan terbesar di Sumatra dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu).Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatra Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.
Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai endangered oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.


Makanan

Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan. 90% dari makanannya berupa buah-buahan. Makanannya antara lain adalah kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, dan sekitar 300 jenis buah-buahan
Selain itu mereka juga memakan nektar,madu dan jamur. Mereka juga gemar makan durian, walaupun aromanya tajam, tetapi mereka menyukainya.
Orangutan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon.
Biasanya induk orangutan mengajarkan bagaimana cara mendapatkan makanan, bagaimana cara mendapatkan makanan, dan berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan. Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam.

Predator

Predator terbesar orangutan dewasa ini adalah manusia. Selain manusia, predator orangutan adalah macan tutul, babi, buaya, ular phyton, dan elang hitam.

Cara melindungi diri

Orangutan termasuk makhluk pemalu. Mereka jarang memperlihatkan dirinya kepada orang atau makhluk lain yang tak dikenalnya.

Reproduksi

Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orangutan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun. Kebergantungan orangutan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa bertahan hidup, mereka biasanya dipelihara hingga berusia 6 tahun.
Orangutan berkembangbiak lebih lama dibandingkan hewan primata lainnya, orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali. Umur orangutan di alam liar sekitar 45 tahun, dan sepanjang gidupnya orangutan betina hanya memiliki 3 keturunan seumur hidupnya. Dimana itu berarti reproduksi orangutan sangat lambat.

Cara bergerak

Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada cabang-cabang pohon, atau yang biasa dipanggil brachiating. Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya, namun jarang sekali ditemukan. Orang utan tidak dapat berenang.

Cara Hidup

Tidak seperti gorila dan simpanse, orangutan tidak hidup dalam sekawanan yang besar. Mereka merupakan hewan yang semi-soliter. Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian dan orangutan betina biasanya ditemani oleh beberapa anaknya. Walaupun oranutan sering memanjat dan membangun tempat tidur dipohon, mereka pada intinya merupakan hewan terrestrial(menghabiskan hidup ditanah).


Beberapa fakta menarik

  • Orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari.
  • Orangutan jantan terbesar memiliki rentangan lengan (panjang dari satu ujung tangan ke ujung tangan yang lain apabila kedua tangan direntangkan) mencapai 2.3 m.
  • Orangutan jantan dapat membuat panggilan jarak jauh yang dapat didengar dalam radius 1 km.Digunakan untuk menandai/mengawasi arealnya, memanggil sang betina, mencegah orang utan jantan lainnya yang mengganggu. Mereka mempunyai kantung tenggorokan yang besar yang membuat mereka mampu melakukannya.

Populasi

Orangutan saat ini hanya terdapat di Sumatra dan Kalimantan, di wilayah Asia Tenggara. Karena tempat tinggalnya merupakan hutan yang lebat, maka sulit untuk memperkirakan jumlah populasi yang tepat. Di Borneo, populasi orangutan diperkirakan sekitar 55.000 individu. Di Sumatra, jumlahnya diperkirakan sekitar 7.500 individu.

Ancaman

Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal. Pusat rehabilitasi didirikan untuk merawat oranutan yang sakit, terluka dan yang telah kehilangan induknya. Mereka dirawat dengan tujuan untuk dikembalikan ke habitat aslinya.

Pembukaan Lahan dan Konversi Perkebunan Sawit

Di Sumatra, populasinya hanya berada di daerah Leuser, yang luasnya 2.6 juta hektare yang mencakup Aceh dan Sumatra Utara. Leuser telah dinyatakan sebagai salah satu dari kawasan keanekaragaman hayati yang terpenting dan ditunjuk sebagai UNESCO Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera pada tahun 2004. Ekosistemnya menggabungkan Taman Nasional Gunung Leuser, tetapi kebanyakan para Orangutan tinggal diluar batas area yang dilindungi, dimana luas hutan berkurang sebesar 10-15% tiap tahunnya untuk dijadikan sebagai area penebangan dan sebagai kawasan pertanian.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami berkurangnya jumlah hutan tropis terbesar didunia. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi. Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektare luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektare.
Penebangan legal dan ilegal telah membawa dampak penyusutan jumlah hutan di Sumatra. Pembukaan hutan sebagai ladang sawit di Sumatra dan Kalimantan juga telah mengakibatkan pembabatan hutan sebanyak jutaan hektare, dan semua dataran hutan yang tidak terlindungi akan mengalami hal yang sama nantinya.
Konflik mematikan yang sering terjadi di perkebunan adalah saat dimana Orangutan yang habitatnya makin berkurang karena pembukaan hutan harus mencari makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Spesies yang dilindungi dan terancam punah ini seringkali dipandang sebagai ancaman bagi keuntungan perkebunan karena mereka dianggap sebagai hama dan harus dibunuh.
Orangutan biasanya dibunuh saat mereka memasuki area perkebunan dan merusak tanaman. Hal ini sering terjadi karena orangutan tidak bisa menemukan makanan yang mereka butuhkan di hutan tempat mereka tinggal.

Perdagangan Ilegal

Secara teori, orangutan telah dilindungi di Sumatra dengan peraturan perundang-undangan sejak tahun 1931, yang melarang untuk memiliki, membunuh atau menangkap orangutan. Tetapi pada prakteknya, para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan hewan. Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas. Namun, tetap saja ada banyak permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Anak orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh. Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa.
Menurut data dari website WWF, diperkirakan telah terjadi pengimporan orangutan ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990. Untuk setiap orangutan yang tiba di Taiwan, maka ada 3 sampai 5 hewan lain yang mati dalam prosesnya.
Perdagangan orangutan dilaporakan juga terjadi di Kalimantan, dimana baik orangutan itu hidaup atau mati juga masih tetap terjual.

Status Konservasi

Orangutan Sumatra telah masuk dalam klasifikasi Critically Endangered dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis dimana pada tahun 1994 jumlahnya mencapai lebih dari 12.000, namun pada tahun 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor. Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan jumlah Orangutan Sumatra di alam liar hanya tinggal sekitar 6.500 ekor.
Secara historis, orangutan ditemukan di kawasan hutan lintas Sumatra, tetapi sekarang terbatas hanya didaerah Sumatra Utara dan provinsi Aceh. Habitat yang sesuai untuk Orangutan saat ini hanya tersisa sekitar kurang dari 900.000 hektare di pulau Sumatra.
Saat ini diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar. Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perdagangan hewan.
Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi. Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.
Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagain macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Emperor Penguin
Adults and a juvenile on Snow Hill Island, Antarctica
Conservation status
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Aves
Order: Sphenisciformes
Family: Spheniscidae
Genus: Aptenodytes
Species: A. forsteri
Binomial name
Aptenodytes forsteri
Gray, 1844
Emperor Penguin range
(breeding colonies in green)
The Emperor Penguin (Aptenodytes forsteri) is the tallest and heaviest of all living penguin species and is endemic to Antarctica. The male and female are similar in plumage and size, reaching 122 cm (48 in) in height and weighing anywhere from 22 to 45 kg (49 to 99 lb). The dorsal side and head are black and sharply delineated from the white belly, pale-yellow breast and bright-yellow ear patches. Like all penguins it is flightless, with a streamlined body, and wings stiffened and flattened into flippers for a marine habitat.
Its diet consists primarily of fish, but can also include crustaceans, such as krill, and cephalopods, such as squid. In hunting, the species can remain submerged up to 18 minutes, diving to a depth of 535 m (1,755 ft). It has several adaptations to facilitate this, including an unusually structured hemoglobin to allow it to function at low oxygen levels, solid bones to reduce barotrauma, and the ability to reduce its metabolism and shut down non-essential organ functions.
The Emperor Penguin is perhaps best known for the sequence of journeys adults make each year in order to mate and to feed their offspring. The only penguin species that breeds during the Antarctic winter, it treks 50–120 km (31–75 mi) over the ice to breeding colonies which may include thousands of individuals. The female lays a single egg, which is incubated by the male while the female returns to the sea to feed; parents subsequently take turns foraging at sea and caring for their chick in the colony. The lifespan is typically 20 years in the wild, although observations suggest that some individuals may live to 50 years of age.


Taxonomy

The Emperor Penguin was described in 1844 by English zoologist George Robert Gray, who created its generic name from Ancient Greek word elements, ἀ-πτηνο-δύτης [a-ptēno-dytēs], "without-wings-diver". Its specific name is in honour of the German naturalist Johann Reinhold Forster, who accompanied Captain James Cook on his second Pacific Voyage and officially named five other penguin species.
Together with the similarly coloured but smaller King Penguin (A. patagonicus), the Emperor Penguin is one of two extant species in the genus Aptenodytes. Fossil evidence of a third species—Ridgen's Penguin (A. ridgeni)—has been found in fossil records from the late Pliocene, about three million years ago, in New Zealand.[2] Studies of penguin behaviour and genetics have proposed that the genus Aptenodytes is basal; in other words, that it split off from a branch which led to all other living penguin species.[3] Mitochondrial and nuclear DNA evidence suggests this split occurred around 40 million years ago.[4]

Description


Adults with chicks
The adult Emperor Penguin stands up to 122 cm (48 in) tall. The weight ranges from 22 to 45 kg (49 to 99 lb) and varies by sex, with males weighing more than females. The weight also varies by season, as both male and female penguins lose substantial mass while raising hatchlings and incubating eggs. A male Emperor penguin must withstand the Antarctic cold for more than two months to protect his eggs from extreme cold. During this entire time he doesn't eat a thing. Most male penguins will lose about 12 kg (26 lb) while they wait for their babies to hatch.[5] The mean weight of males at the start of the breeding season is 38 kg (84 lb) and that of females is 29.5 kg (65 lb). After the breeding season this drops to 23 kg (51 lb) for both sexes.[6][7][8]
Like all penguin species, the Emperor has a streamlined body to minimise drag while swimming, and wings that have become stiff, flat flippers.[9] The tongue is equipped with rear-facing barbs to prevent prey from escaping when caught.[10] Males and females are similar in size and colouration.[6] The adult has deep black dorsal feathers, covering the head, chin, throat, back, dorsal part of the flippers, and tail. The black plumage is sharply delineated from the light-coloured plumage elsewhere. The underparts of the wings and belly are white, becoming pale yellow in the upper breast, while the ear patches are bright yellow. The upper mandible of the 8 cm (3 in) long bill is black, and the lower mandible can be pink, orange or lilac.[11] In juveniles, the auricular patches, chin and throat are white, while its bill is black.[11] The Emperor Penguin chick is typically covered with silver-grey down and has a black head and white mask.[11] A chick with all-white plumage was found in 2001, but was not considered to be an albino as it did not have pink eyes.[12] Chicks weigh around 315 g (11 oz) after hatching, and fledge when they reach about 50% of adult weight.[13]
The Emperor Penguin's dark plumage fades to brown from November until February, before the yearly moult in January and February.[11] Moulting is rapid in this species compared with other birds, taking only around 34 days. Emperor Penguin feathers emerge from the skin after they have grown to a third of their total length, and before old feathers are lost, to help reduce heat loss. New feathers then push out the old ones before finishing their growth.[14]
The average yearly survival rate of the Emperor Penguin has been measured at 95.1%, with an average life expectancy of 19.9 years. The same researchers estimated that 1% of Emperor Penguins hatched could feasibly reach an age of 50 years.[15] In contrast, only 19% of chicks survive their first year of life.[16] Therefore, 80% of the Emperor Penguin population comprises adults five years and older.[15]

Vocalization

As the species has no fixed nest sites that individuals can use to locate their own partner or chick, the Emperor Penguin must rely on vocal calls alone for identification.[17] It uses a complex set of calls that are critical to individual recognition between parents, offspring, and mates,[6] displaying the widest variation in individual calls of all penguins.[17] Vocalizing Emperor Penguins use two frequency bands simultaneously.[18] Chicks use a frequency-modulated whistle to beg for food and to contact parents.[6]

Adaptations to cold


An Emperor Penguin can hold its breath for 20 minutes, and dive to depths of over 550 m (1,800 ft).[19]
The Emperor Penguin breeds in the coldest environment of any bird species; air temperatures may reach −40 °C (−40 °F), and wind speeds may reach 144 km/h (89 mph). Water temperature is a frigid −1.8 °C (28.8 °F), which is much lower than the Emperor Penguin's average body temperature of 39 °C (102 °F). The species has adapted in several ways to counteract heat loss.[20] Feathers provide 80–90% of its insulation, and it has a layer of sub-dermal fat which may be up to 3 cm (1.2 in) thick before breeding.[21] This resultant blubber layer impedes the mobility of the Emperor on land compared to its less well fat-insulated cousin, the Magellanic Penguin.[22] Its stiff feathers are short, lanceolate (spear-shaped), and densely packed over the entire skin surface. With around 100 feathers covering one square inch (15 feathers per cm2), it has the highest feather density of any bird species.[23] An extra layer of insulation is formed by separate shafts of downy filaments between feathers and skin. Muscles allow the feathers to be held erect on land, reducing heat loss by trapping a layer of air next to the skin. Conversely, the plumage is flattened in water, thus waterproofing the skin and the downy underlayer.[24] Preening is vital in facilitating insulation and in keeping the plumage oily and water-repellent.[25]
The Emperor Penguin is able to thermoregulate (maintain its core body temperature) without altering its metabolism, over a wide range of temperatures. Known as the thermoneutral range, this extends from -10 to 20 °C (14 to 68 °F). Below this temperature range, its metabolic rate increases significantly, although an individual can maintain its core temperature from 38.0 °C (100.4 °F) down to −47 °C (−53 °F).[26] Movement by swimming, walking, and shivering are three mechanisms for increasing metabolism; a fourth process involves an increase in the breakdown of fats by enzymes, which is induced by the hormone glucagon.[27] At temperatures above 20 °C (68 °F), an Emperor Penguin may become agitated as its body temperature and metabolic rate rise to increase heat loss. Raising its wings and exposing the undersides increases the exposure of its body surface to the air by 16%, facilitating further heat loss.[28]

Adaptations to pressure and low oxygen


Mounted skeleton at the AMNH
In addition to the cold, the Emperor Penguin encounters another stressful condition on deep dives —markedly increased pressure of up to 40 times that of the surface, which in most other terrestrial organisms would cause barotrauma. The bones of the penguin are solid rather than air-filled, which eliminates the risk of mechanical barotrauma. However, it is unknown how the species avoids the effects of nitrogen-induced decompression sickness.
While diving, the Emperor Penguin's oxygen use is markedly reduced, as its heart rate is reduced to as low as 15-20 beats per minute and non-essential organs are shut down, thus facilitating longer dives.[10] Its hemoglobin and myoglobin are able to bind and transport oxygen at low blood concentrations; this allows the bird to function with very low oxygen levels that would otherwise result in loss of consciousness.[29]

Distribution and habitat

The Emperor Penguin has a circumpolar distribution in the Antarctic almost exclusively between the 66° and 77° south latitudes. It almost always breeds on stable pack ice near the coast and up to 18 km (11 mi) offshore.[6] Breeding colonies are usually located in areas where ice cliffs and icebergs shelter them from the wind.[6] The total population is estimated at around 400,000–450,000 individuals, which are distributed among as many as 40 independent colonies.[8] Around 80,000 pairs breed in the Ross Sea sector.[30] Major breeding colonies are located at Cape Washington (20,000–25,000 pairs), Coulman Island in Victoria Land (around 22,000 pairs), Halley Bay, Coats Land (14,300–31,400 pairs), and Atka Bay in Queen Maud Land (16,000 pairs).[8] Two land colonies have been reported: one on a shingle spit at Dion Island on the Antarctic Peninsula,[31] and one on a headland at Taylor Glacier in the Australian Antarctic Territory.[32] Vagrants have been recorded on Heard Island,[33] South Georgia, and in New Zealand.[8][34]

Conservation status


Adult
The Emperor Penguin is listed as a species of "least concern" by the IUCN. Along with nine other species of penguin, it is currently under consideration for inclusion under the US Endangered Species Act. The primary reasons for this are declining food availability due to the effects of climate change and industrial fisheries on the crustacean and fish populations. Other reasons for their potential placement on this list include disease, habitat destruction, and disturbance at breeding colonies by humans. Of particular concern is the impact of tourism.[35] One study has shown Emperor Penguin chicks in a créche to become more apprehensive following helicopter approach to 1,000 m (3,281 ft).[36]
Population declines of 50% in the Terre Adélie region have been observed due to increased adult mortality, especially of males, during an abnormally prolonged warm period in the late 1970s, which resulted in reduced sea-ice coverage. On the other hand, egg hatching success rates declined when the sea-ice extent increased. The species is therefore considered to be highly sensitive to climatic changes.[37]
A Woods Hole Oceanographic Institution study in January 2009 found Emperor Penguins could be pushed to the brink of extinction by the year 2100 due to global climate change. By applying mathematical models to predict how the loss of sea ice from climate warming would affect a big colony of Emperor Penguins at Terre Adélie, Antarctica, they forecast a decline of 87% in the colony's population by the end of the century, from the current 3,000 breeding pairs in the colony to 400 breeding pairs. The decline may be mirrored in the whole Emperor Penguin population, estimated at about 200,000 breeding pairs.[38]
In 2009, satellite images of areas of excrement-stained ice that are large enough to be visible from space helped scientists to discover ten previously unknown emperor penguin colonies in Antarctica.[39]

Behaviour


Emperor Penguin colony
The Emperor Penguin is a social animal in its nesting and its foraging behaviour; birds hunting together may coordinate their diving and surfacing.[40] Individuals may be active day or night. A mature adult travels throughout most of the year between the nesting area and ocean foraging areas; the species disperses into the oceans from January to March.[8]
The American physiologist Gerry Kooyman revolutionized the study of penguin foraging behaviour in 1971 when he published his results from attaching automatic dive-recording devices to Emperor Penguins. He found that the species reaches depths of 265 m (869 ft), with dive periods of up to 18 minutes.[40] Later research revealed a small female had dived to a depth of 535 m (1,755 ft) near McMurdo Sound. It is possible that the Emperor Penguin can dive even deeper, as the accuracy of the recording devices is diminished at greater depths.[41] Further study of one bird's diving behaviour revealed regular dives to 150 m (490 ft) in water around 900 m (3,000 ft) deep, and shallow dives of less than 50 m (160 ft), interspersed with deep dives of more than 400 m (1,300 ft) in depths of 450 to 500 m (1,480 to 1,600 ft).[42] This was suggestive of feeding near or at the sea bottom.[43]
Both male and female Emperor Penguins forage for food up to 500 km (311 mi) from colonies while collecting food to feed chicks, covering 82–1,454 km (51–903 mi) per individual per trip. A male returning to the sea after incubation heads directly out to areas of permanent open water, known as polynyas, around 100 km (62 mi) from the colony.[42]
An efficient swimmer, the Emperor Penguin exerts pressure with both its upward and downward strokes while swimming.[23] The upward stroke works against buoyancy and helps maintain depth.[44] Its average swimming speed is 6–9 km/h (4–6 mph).[45] On land, the Emperor Penguin alternates between walking with a wobbling gait and tobogganing—sliding over the ice on its belly, propelled by its feet and wing-like flippers. Like all penguins, it is flightless.[9]
As a defence against the cold, a colony of Emperor Penguins forms a compact huddle (also known as the turtle formation) ranging in size from ten to several hundred birds, with each bird leaning forward on a neighbour. Those on the outside upwind tend to shuffle slowly around the edge of the formation and add themselves to its leeward edge, producing a slow churning action, and giving each bird a turn on the inside and on the outside.[46]

Diet

The Emperor Penguin's diet consists mainly of fish, crustaceans and cephalopods,[47] although its composition varies from population to population. Fish are usually the most important food source, and the Antarctic silverfish (Pleuragramma antarcticum) makes up the bulk of the bird's diet. Other prey commonly recorded include other fish of the family Nototheniidae, the Glacial Squid (Psychroteuthis glacialis), and the hooked squid species Kondakovia longimana, as well as Antarctic krill (Euphausia superba).[43] The Emperor Penguin searches for prey in the open water of the Southern Ocean, in either ice-free areas of open water or tidal cracks in pack ice.[6] One of its feeding strategies is to dive to around 50 m (164 ft), where it can easily spot sub-ice fish like the Bald notothen (Pagothenia borchgrevinki) swimming against the bottom surface of the sea-ice; it swims up to the bottom of the ice and catches the fish. It then dives again and repeats the sequence about half a dozen times before surfacing to breathe.[48]

Predators


Skua flying over Emperor Penguin chicks, Ross Sea, Antarctica
The Emperor Penguin's predators include birds and aquatic mammals. The Southern Giant Petrel (Macronectes giganteus) is the predominant land predator of chicks, responsible for up to 34% of chick deaths in some colonies though they often scavenge dead penguins as well. The South Polar Skua (Stercorarius maccormicki) mainly scavenges for dead chicks, as the live chicks are too large to be attacked by the time of its annual arrival in the colony.[49]
The known aquatic predators are both mammals: the Leopard Seal (Hydrurga leptonyx), which takes some adult birds, as well as fledglings soon after they enter the water,[25] and the Orca (Orcinus orca), which takes adult birds.[50]
If one of a breeding pair dies or is killed during the breeding season, the surviving parent must abandon its egg or young and go back to the sea to feed.

Courtship and breeding

The Emperor Penguin is able to breed at around three years of age, and usually commences breeding around one to three years later.[13] The yearly reproductive cycle begins at the start of the Antarctic winter, in March and April, when all mature Emperor Penguins travel to colonial nesting areas, often walking 50 to 120 km (31 to 75 mi) inland from the edge of the pack ice.[51] The start of travel appears to be triggered by decreasing day lengths; Emperor Penguins in captivity have been induced successfully into breeding by using lighting systems mimicking seasonal Antarctic day lengths.[52]

The life-cycle of the Emperor Penguin
The penguins start courtship in March or April, when the temperature can be as low as −40 °C (−40 °F). A lone male gives an ecstatic display, where it stands still and places its head on its chest before inhaling and giving a courtship call for 1–2 seconds; it then moves around the colony and repeats the call. A male and female then stand face to face, with one extending its head and neck up and the other mirroring it; they both hold this posture for several minutes. Once in pairs, couples waddle around the colony together, with the female usually following the male. Before copulation, one bird bows deeply to its mate, its bill pointed close to the ground, and its mate then does the same.[53]
Emperor Penguins are serially monogamous. They have only one mate each year, and stay faithful to that mate. However, fidelity between years is only about 15%.[53] The narrow window of opportunity available for mating appears to be an influence, as there is a priority to mate and breed which often precludes waiting for the appearance of the previous year's partner.[54]

The egg of the Emperor Penguin. It is 12 × 8 cm and vaguely pear-shaped.
The female penguin lays one 460–470 g (1 lb) egg in May or early June;[53] it is vaguely pear-shaped, pale greenish-white, and measures around 12 × 8 cm (4¾ x 3 in).[51] It represents just 2.3% of its mother's body weight, making it one of the smallest eggs relative to the maternal weight in any bird species.[55] 15.7% of the weight of an Emperor Penguin egg is shell; like those of other penguin species, the shell is relatively thick, which minimises risk of breakage.[56]
After laying, the mother's nutritional reserves are exhausted and she very carefully transfers the egg to the male, before immediately returning to the sea for two months to feed.[51] The transfer of the egg can be awkward and difficult, and many couples drop the egg in the process. When this happens, the chick inside is quickly lost, as the egg cannot withstand the freezing temperatures on the icy ground. The male spends the winter incubating the egg in his brood pouch, balancing it on the tops of his feet, for 64 consecutive days until hatching.[53] The Emperor Penguin is the only species where this behaviour is observed; in all other penguin species both parents take shifts incubating.[57] By the time the egg hatches, the male will have fasted for around 115 days since arriving at the colony.[53] To survive the cold and winds of up to 200 km/h (120 mph), the males huddle together, taking turns in the middle of the huddle. They have also been observed with their backs to the wind to conserve body heat. In the four months of travel, courtship, and incubation, the male may lose as much as 20 kg (44 lb), from around 38 kg to just 18 kg (84 lb to 40 lb).[58][59]
Hatching may take as long as two or three days to complete, as the shell of the egg is thick. Newly hatched chicks are semi-altricial, covered with only a thin layer of down and entirely dependent on their parents for food and warmth.[60] If the chick hatches before the mother's return, the father feeds it a curd-like substance composed of 59% protein and 28% lipid, which is produced by a gland in his esophagus.[61] The young chick is brooded in what is called the guard phase, spending time balanced on its parent's feet and sheltered in the brood pouch.[60]

Emperor Penguin feeding a chick
The female penguin returns at any time from hatching to ten days afterwards, from mid-July to early August.[51] She finds her mate among the hundreds of fathers by his vocal call and takes over caring for the chick, feeding it by regurgitating the food that she has stored in her stomach. The male then leaves to take his turn at sea, spending around 24 days there before returning.[51] His trip is slightly shorter than it was originally, because the melting of ice in the summer gradually decreases the distance between the breeding site and the open sea. The parents then take turns, one brooding while the other forages at sea.[53]
About 45–50 days after hatching, the chicks form a crèche, huddling together for warmth and protection. During this time, both parents forage at sea and return periodically to feed their chicks.[60] A crèche may comprise up to several thousand birds densely packed together and is essential for surviving the low Antarctic temperatures.[62]
From early November, chicks begin moulting into juvenile plumage, which takes up to two months and is often not completed by the time they leave the colony; adults cease feeding them during this time. All birds make the considerably shorter trek to the sea in December or January and spend the rest of the summer feeding there.[25][63]

Relationship with humans


On Snow Hill Island, Antarctica
The species has been bred outside Antarctica at SeaWorld San Diego; more than 20 individuals have hatched there since 1980.[64][65] Considered a flagship species, 55 individuals were counted in captivity in North American zoos and aquaria in 1999.[66] The species is kept in captivity in only two places in the world.[67]


Cultural references

The species' unique life cycle in such a harsh environment has been described in print and visual media. Apsley Cherry-Garrard, the Antarctic explorer, said: "Take it all in all, I do not believe anybody on Earth has a worse time than an Emperor Penguin".[68] Widely distributed in cinemas in 2005, the French documentary La Marche de l'empereur, which was also released with the English title March of the Penguins, told the story of the penguins' reproductive cycle.[67][69] The subject has been covered for the small screen twice by the BBC and presenter David Attenborough, first in episode five of the 1993 series on the Antarctic Life in the Freezer,[70] and again in the 2006 series Planet Earth.[71]
The computer-animated movie Happy Feet (2006) features Emperor Penguins as its primary characters, with one in particular that loves to dance; although a comedy, it too depicts their life cycle and promotes an underlying serious environmental message of threats from global warming and depletion of food sources by overfishing.[72] The computer-animated movie Surf's Up (2007) features a surfing Emperor Penguin named Zeke "Big-Z" Topanga.[73] More than 30 countries have depicted the bird on their stamps – Australia, Great Britain, Chile and France have each issued several.[74] It has also been depicted on a 1962 10 franc stamp as part of an Antarctic expedition series.[75] Canadian band The Tragically Hip included a song 'Emperor Penguin' on their 1998 album Phantom Power.
dikutip dari Wikipedia, the free encyclopedia

Description & Characteristics:

The regal Emperor penguin is the largest of all the penguins. They are also one of the most biologically interesting. Concentrated in the Weddell Sea and Dronning Maud Land, Enderby, Princess Elizabeth Lands, and the Ross Sea, Emperors remain in Antarctica permanently, breeding on the sea ice in some of the coldest conditions on Earth. They do not build nests or defend a fixed territory, using their warm bodies instead to incubate and raise their young. This unique breeding behavior--Emperors are the only Antarctic bird that breeds in winter--may have developed to allow chicks to grow to independence at a time when food is most plentiful and predators are few.

Emperor Penguins have a big head, a short, thick neck, a streamlined shape, a short, wedge-shaped tail, and tiny, flipper-like wings. The sexes are alike, with blue-grey upperparts and blackish-blue heads adorned with large white and yellow ear patches. Their underparts are mostly white but with the upper breast showing a pale yellow. The only penguin remotely similar in size and appearance is the King penguin which is smaller and more brightly marked. Like all penguins, Emperors have shiny, waterproof feathers that help keep their skin dry and webbed feet which they use for swimming.

Unlike most penguins, which feed on surface krill, Emperor penguins live on fish, squid, and crustaceans caught on long, deep pursuit dives. They will quite often reach depths of more than 700 feet and remain submerged for up to 18 minutes.

Emperor penguins establish loose breeding colonies on the pack ice surrounding the Antarctic continent. In May, female Emperors will lay a single egg after a 63-day gestation period, and then will pass the egg over to her mate while she goes off to sea to feed.

Male Emperors will be unable to eat during the ensuing 9 week incubation period. Instead, he must keep his egg warm by balancing it on his feet, where it isinsulated by a thick roll of skin and feathers called the 'brood pouch.' For added warmth and protection against the bitter winds and sub-zero temperatures, the males will huddle together in tight bunches. After the eggs have hatched, young chicks will remain in the 'brood pouch' for a short time until they are able to regulate their own body temperatures.

By the time the female returns to take over feeding the chick, the male will have lost up to a third of his body weight. He must now make another long trek over the ice --up to 60 miles--to find food.

By January, as the sea-ice begins to break out, the chicks have lost most of their soft silvery-gray down, and are now able to head out independently for the open sea.